Disini gue pengen berbagi quotes atau kutipan novel yg gue temuin di novel yg berjudul
Cecilia dan Malaikat Ariel – Jostein Gaarder

Ini adalah novel yg lumayan laris di dunia.banyak makna yg kita dapet setelah membaca novel ini.
Cecilia dan Malaikat Ariel
“Kita menangis saat ada sesuatu yang menyedihkan. Kita juga sering mencucurkan air mata saat ada sesuatu yang indah. Ketika ada sesuatu yang lucu atau jelek, kita tertawa. Mungkin kita sedih saat merasakan keindahan karena kita tahu itu tak akan berlangsung selamanya. Kita tertawa ketika ada sesuatu yang jelek karena kita tahu itu hanyalah canda.” (hlm.21)
Ariel : ”Anak-anaklah yang diciptakan lebih dulu; kalau tidak ada anak-anak, tidak mungkin ada orang dewasa…Orang-orang dewasa selalu datang belakangan tertatih-tatih. Semakin tua, semakin tertatih-tatih mereka jadinya.”
Cecilia : “Tapi, Adam dan Hawa,kan orang dewasa.”
Ariel : “Mereka tumbuh dewasa. Itulah kesalahan besar mereka. Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, mereka adalah anak-anak kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu, memanjati pohon-pohon, bermain-main di taman luas yang dibuat-Nya. Tak ada gunanya membikin taman luas kalau tidak ada anak-anak yang bermain di dalamnya.”
Cecilia : “Benarkah ? Kalau begitu ceritakan lebih lanjut!”
Ariel : “Kemudian mereka digoda sang ular untuk memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Mereka pun mulai tumbuh. Semakin banyak mereka makan, semakin dewasa mereka jadinya. Begitulah, mereka perlahan-lahan terusir dari surga masa kanak-kanak mereka. Anak-anak nakal itu begitu lapar akan pengetahuan sampai-sampai akhirnya mereka harus keluar dari surga.”
Cecilia : “Aku memang pernah dengar Adam dan Hawa diusir dari surga. Tapi, tak ada yang bilang mereka diusir dari surga masa kanak-kanak…Aku ingin mendengar lebih banyak lagi cerita tentang Adam dan Hawa.”
Ariel : “Awalnya, mereka terus tumbuh, badan mereka bertambah besar. Kemudian, mereka matang secara seksual. Itu adalah bagian dari hukuman, tapi itu juga menjadi kegembiraan bagi Tuhan, dan juga bagi manusia.”
Cecilia : “Mengapa ?”
Ariel : “Karena manusia-manusia baru bisa terlahir di dunia. Dan seperti itulah yang berlangsung sepanjang masa. Tuhan telah merancang agar anak-anak terus terlahir, dan menemukan sebuah dunia baru. Dengan cara itu, Ia mengatur supaya penciptaan tak pernah usai. Tahukah kau, dunia tercipta kembali setiap kali seorang anak datang ke dunia ?”
Cecilia : “Karena ketika seorang anak datang ke dunia, bisa dibilang dunia ini tampak baru bagi anak itu ?”
Ariel : “Kau juga bisa bilang bahwa dunialah yang mendatangi anak itu. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini – dengan matahari di kala siang, bulan di waktu malam, dan bintang-bintang di angkasa hitam…Karena dunia tak pernah menjadi tua dan beruban. Kalian, manusia, kalianlah yang menjadi tua dan beruban. Selama anak-anak masih datang ke dunia, dunia ini tetap sama barunya seperti pada hari ketujuh, ketika Tuhan beristirahat.”
Ariel : “Bukan hanya Adam dan Hawa yang saat itu tercipta. Saat itu, sebagian kecil dirimu ikut tercipta. Kemudian, suatu hari, mendadak tiba giliranmu untuk melihat apa yang telah Tuhan ciptakan. Kau diguncangkan keluar dari lengan jas Tuhan dan kau temukan dirimu menghirup udara, benar-benar hidup. Hidup! Oh! Dan kau lihat segala sesuatu sungguh-sungguh indah.” (hlm.38-42)
Ariel : ”…Tapi, seandainya kamu menciptakan seluruh alam semesta tanpa bantuan siapa pun, aku yakin, kamu juga akan sedikit sensitif terhadap kritik…Meskipun Tuhan ‘melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik’, bukan berarti Ia tidak bisa membuatnya berbeda…”
Cecilia : “Andaikan hanya ada satu jenis kelamin, atau bisa juga tiga: mungkin hasilnya akan lebih baik.”
Ariel : “Apa menurutmu laki-laki dan perempuan belum cukup menimbulkan keributan ?” (hlm.57-58)
“Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Mantra KELUAR terucap, maka kau pun harus keluar…
Bukan kita yang datang ke dunia. Dunialah yang datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini. Kadang-kadang, Tuhan hanya berkata, ‘Aku tahu, banyak hal bisa dibikin berbeda, tapi semua sudah terjadi, dan Aku sudah berbuat sebisa-Ku’.” (hlm.67-68)
Ariel : “Banyak manusia membayangkan malaikat seperti ruh tanpa tubuh yang melayang pulang-pergi antara surga dan bumi…”
Cecilia : “Aku juga membayangkan malaikat seperti itu.”
Ariel : “Yang benar adalah sebaliknya. Bagi kami, kalianlah yang maya dan tak konkret. Jika kau tendang sebongkah batu, kakimu akan membentur batu itu. Jika aku melakukan hal yang sama, aku hanya menendang dan menembus batu itu. Bagiku, batu itu tak jauh beda dengan kabut.”
Cecilia : “Kalau begitu, aku bisa paham mengapa kau bisa menembus pintu dan jendela tanpa terluka. Tapi aku tak paham mengapa dinding yang kau tembus juga tak rusak.”
Ariel : “Saat kau berjalan menembus kabut, kabut itu juga tidak rusak. Dan ketika kau memikirkan sesuatu, pikiranmu itu tidak bisa merusak dunia di sekitarmu.”
Cecilia : “Mungkin memang seperti itu. Tapi jika kau bisa menembus dinding, pastilah itu karena kau tak punya tubuh.”
Ariel : “Coba peganglah kakiku, Cecilia. Kami punya tubuh yang jauh lebih nyata ketimbang makhluk apapun di alam ini. Seorang malaikat tak akan pernah dapat hancur. Itu karena kami tidak punya tubuh dari darah dan daging, sehingga ruh kami tidak perlu meninggalkannya.”
Cecilia : “Kau harus bersyukur karenanya.”
Ariel : “Tapi, alam tak seperti itu. Di sini segala sesuatu sangat mudah hancur. Bahkan, sebuah gunung perlaha-lahan digerus kekuatan-kekuatan alam dan akhirnya berubah menjadi tanah dan pasir.”
Cecilia : “Terima kasih atas informasinya, tapi aku sudah tahu semua itu.”
Ariel : “Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian datang dan pergi. Kalianlah yang tidak abadi. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalah sebuah keajaiban. Tapi, secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian.”
Cecilia : “Maaf kalau aku terlalu berterus terang, tetapi itu terdengar sedikit jahat.”
Ariel : “Mungkin itulah kata yang tepat untuk menyebutnya. Ada kejahatan di alam ini. Ada masalah dalam seluruh ciptaan.” (hlm.75-77)
Cecilia : “Mengapa kau tidak punya sayap ?”
Ariel : “Sayap malaikat hanyalah takhayul kuno yang dimulai pada masa ketika manusia menganggap Bumi ini datar seperti kue dadar, dan bahwa malaikat sepanjang waktu terbang pulang-pergi antara surga dan bumi. Sebenarnya tidak sesederhana itu.”
Cecilia : “Kalau begitu, bagaimana, dong ?”
Ariel : “Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini.”
Cecilia : “Itu sama seperti pikiran-pikiranku. Pikiranku juga tidak butuh sayap untuk terbang menjelajahi dunia.”
Sebelum Cecilia selesai berbicara, Ariel bangkit dari kursi dan mulai melayang di atas kamar seperti sebuah balon udara. Cecilia memandang takjub.
Cecilia: “Luar biasa! Apa rasanya menakjubkan ?”
Ariel mendarat di depan rak buku.
Ariel : “Aku tidak bisa merasakan apa pun.”
Cecilia : “Rasanya pasti aneh. Pasti aneh rasanya tidak bisa merasakan apa pun.”
Ariel : “Tapi, pikiranmu tidak bisa merasakan apa yang dipikirkannya, tidak seperi kau merasakan bola salju ditanganmu.” (hlm.84-85)
Ariel : “…Bisakah kau terangkan seperti apa rasanya melihat ?”
Cecilia : “Tapi kau bisa melihat seperti aku kan ? “
Ariel : “Caraku melihat tidak sama denganmu. Dan aku juga tidak dibentuk dari tanah dan air. Aku bukan sebongkah mainan seperti kalian, manusia.”
Cecilia : “Jadi, bagaimana caramu melihat ?”
Ariel : “Dengan cara yang bisa kau sebut sebagai ‘kehadiran ruhiah’ .“
Cecilia : “Tapi, kau bisa melihatku, kan ?”
Ariel : “Aku hanya hadir di sini.”
Cecilia : “Aku juga. Dan selama ini kita bisa saling melihat, kan ?”
Ariel : “Apa menurutmu, kau bisa melihat dalam mimpi ?”
Cecilia : “Aku sering bisa melihat dengan sangat jelas dalam mimpi.”
Ariel : “Tapi, saat itu kau tidak melihat dengan matamu, kan ?”
Cecilia : “Tidak, karena mataku terpejam saat aku tertidur.”
Ariel : “Nah, jadi kau pasti bisa paham bahwa ada beberapa macam cara melihat. Ada orang-orang buta matanya. Mereka harus menggunakan mata batin mereka. Itulah mata yang kau pakai untuk melihat dalam mimpi indahmu.”
Cecilia : “Mata batin ?”
Ariel : “Penglihatan mata batin agak berbeda dengan yang kau dapatkan dengan membuka kelopak matamu dan menggunakan lensa-lensa hidup untuk mengamati dunia di sekitarmu…Dalam kasus terburuk, penglihatanmu ini bisa rusak total. Tapi, tak ada yang bisa merusak mata batinmu…Karena tidak terbuat dari darah dan daging.”
Cecilia : “Kalau begitu, terbuat dari apa ?”
Ariel : “Dari pikiran.”
Cecilia : “Kedengarannya rada mengerikan, deh.”
Ariel : “Kurasa jauh lebih mengerikan bahwa sepasang mata yang hidup, terbuat dari atom dan molekul, bisa melihat segala sesuatu di dalam ruangan. Kau bahkan bisa meninjau jagat raya dan menangkap secercah keagungan surga.Tapi, alat yang kau pakai untuk melihat sesungguhnya adalah sepasang gumpalan licin yang tak jauh beda dengan mata ikan.”
Cecilia : “Melihat jadi terasa misterius sekali jika kamu deskripsikan seperti itu.”
Ariel : “Deskripsiku sama sekali tak membuatnya tambah misterius, karena ia sendiri memang sudah sangat misterius…Sekarang, kau bisa melihat ribuan tahun cahaya jauhnya ke angkasa raya dengan memakai sepasang mata yang serupa (dengan ikan-ikan dan amfibi) Padahal, pernah pada suatu masa bintang yang bisa dilihatnya hanyalah bintang laut…”
Cecilia : “Aku sepakat denganmu. Memang aneh rasanya kalau kita memikirkannya seperti itu.”
Ariel : “Seandainya Tuhan tak menciptakan penglihatan, Ia tak kan berbagi proses penciptaan dengan manusia. Taman Firdaus akan selamanya berada dalam kegelapan total. Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan.”
Cecilia : “Aku tak yakin memahami perkataanmu yang terakhir itu.”
Ariel : “Sebagian malaikat percaya bahwa setiap mata yang memandang ciptaan Tuhan adalah mata Tuhan sendiri. Siapa bilang Tuhan tak mungkin punya miliaran mata ? Mungkin saja Ia telah menyebarkan miliaran photocell kecil di penjuru semesta sehingga Ia bisa melihat apa yang telah Ia ciptakan dari miliaran sudut pandang yang berbeda. Karena manusia tidak bisa menyelam ribuan meter di bawah laut, Ia juga memberikan mata kepada ikan-ikan. Dan manusia tidak bisa terbang, tetapi pada setiap waktu, ada burung-burung melayang di angkasa, dan mata mereka mengawasi bumi dari atas. Tapi itu belum semuanya.”
Cecilia : “Tolong lanjutkan!”
Ariel : “Kadang-kadang, seorang manusia mengarahkan pandangannya ke atas, ke asal surgawinya. Sehingga, seolah-olah Tuhan melihat diri-Nya dalam cermin.”
Cecilia : “Seperti langit dan laut!”
Ariel : ”Ya. Seperti langit bercermin pada laut. Seperti itulah, Tuhan bisa bercermin pada sepasang mata manusia. Karena, mata adalah cerminan ruh, dan Tuhan bisa bercermin pada ruh manusia.” (hlm.96-101)
“Para malaikat di surga tak bisa hancur. Itu karena mereka tak punya tubuh dari darah dan daging yang ditinggalkan ruh saat ajal tiba. Berbeda dengan segala sesuatu di alam semesta. Di sini, semua hal bisa rusak dengan gampangnya. Bahkan, gunung pun perlahan terban dan berakhir sebagai tanah dan pasir. Ada keburukan di alam semesta. Ada cacat di alam duniawi.
Kau tak selalu sepenuhnya memahami apa yang kau ciptakan. Misalnya, aku bisa saja menggambar atau melukis sesuatu di selembar kertas. Tapi, itu bukan berarti aku bisa memahami bagaimana rasanya menjadi gambarku itu. Lagi pula, kan, gambarku tidak hidup. Dan itulah yang benar-benar aneh: Aku hidup!” (hlm.121-122)
“Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan melihat lebih banyak lagi. Tapi, kita tak bisa lagi melihat diri kita sendiri.” (hlm.186)

0 komentar:
Posting Komentar