Kenangan, Keberanian dan Romantisisme yang Tak Kunjung Selesai
Pernahkah kita terdiam sejenak
pada setiap keterasingan?
Merasakan di tengah tengah
kita, tentang keadaan yang tak pernah kita inginkan. Sesuatu yang menjauh dari
harapan dan bayangan kita. Tentang segala sesuatu yang melesat dan tiba-tiba
jatuh, seseorang yang membuat kita bercermin tentang hitam putih masa lalu.
Lalu, adakah yang lebih diam
dari keheningan?
Meresapi setiap relung
kesunyian, pada kesetiaan dingin batu, pada alam yang berkisah tentang keluh
kesah, pada alam yang bercerita.
: tentang keindahan
Kata-kata yang mengalir
bersahaja, menyatu, bersama gelisah orang-orang berwajah resah, tentang nasib
mereka yang tertindas dan dilumpuhkan kekuasaan, tentang keindahan cinta yang
pelan-pelan, dilukiskannya dalam kanvas kesederhanaan. Ada gejolak yang
menentangnya, untuk berani tanpa rasa takut, melawan ketidak adilan di
sekitarnya, menyuarakan getir, hingga akhir titik nadir.
Dia yang bercerita, tentang
anjing-anjing yang lucu, dan nakal. Tentang kekasih yang tak sempat
dicintainya, karena maut telanjur memanggilnya. Kabar mengejutkan, datang dari
Semeru itu, mengantarmu, selama-lamanya. Sosok yang selamanya, bersemayam, di
kesetiaan paling dalam. Ia yang hanya ingin, mungkin, mengatakan, pada kita, di
tengah tengah kita;
…Ada golongan yang tercampak
dari kebenaran
Dan berdiri atas nilai
kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia
di sana
Sebab tiada kasih,
kebenaran dan keindahan
dalam kepalsuan…

0 komentar:
Posting Komentar